Suku Kaili, Sulawesi

suku Kaili
pic: imageshack
Suku Kaili, adalah salah satu suku di provinsi Sulawesi Tengah yang tersebar di kabupaten Donggala, kabupaten Sigi dan di kota Palu. Selain itu suku Kaili ini juga tersebar di seluruh daerah lembah antara gunung Gawalise, gunung Nokilalaki, Kulawi dan gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi kabupaten Parigi-Moutong, kabupaten Tojo-Unauna dan kabupaten Poso.

Dalam kalangan orang Kaili, mereka menyebut diri mereka dengan istilah "to" di depan nama suku, yaitu To Kaili. "To" berarti "orang", "To Kaili" berarti "orang Kaili".
Istilah Kaili, menurut penuturan masyarakat suku Kaili, adalah berasal dari nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di kawasan ini, terutama di tepian sungai Palu dan Teluk, yaitu pohon Kaili.

suku Kaili Unde
pic: imageshack
Bahasa Kaili, adalah bahasa utama suku Kaili. Bahasa Kaili memiliki 20 dialek bahasa, yang memiliki karakter sendiri serta perbedaan masing-masing antara satu dialek dengan dialek yang lain. Keunikan bahasa Kaili adalah kadang 2 kampung yang hanya berbeda jarak cuma 2 km saja, memiliki bahasa yang berbeda.

suku Kaili Ledo
pic: imageshack
Salah satu dialek bahasa Kaili, adalah dialek Ledo, yang diucapkan oleh suku Kaili Ledo. "Ledo" berarti "tidak". Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaili lainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang), ditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara, bahasa Ledo yang dipakai di daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasi dengan beberapa bahasa para pendatang terutama bahasa Bugis dan bahasa Melayu.

Beberapa sub-suku Kaili, dengan dialek bahasa, adalah:
  • Ado (daerah Sibalaya, Sibovi dan Pandere)
  • Baras
  • Bare'e (daerah Touna, Tojo, Unauna dan Poso)
  • Bunggu (di Sulawesi Barat)
  • Da'a
  • Doi (daerah Pantoloan dan Kayumalue)
  • Edo (daerah Pakuli dan Tuva)
  • Ija (daerah Bora dan Vatunonju)
  • Ledo
  • Lindu (To Lindu):
    (4 komunitas adat, anak sub-suku)
    • Anca
    • Tomado
    • Langko
    • Puroo
  • Moma (Ngata Toro)
  • Pamona (kabupaten Poso)
  • Pekurehua
  • Rai (daerah Tavaili sampai ke Tompe)
  • Sarudu
  • Sedoa
  • Tado
  • Tara (daerah Talise, Lasoani, Kavatuna dan Parigi)
  • Tohulu
  • Tau Ta'a (kab. Tojo Una Una)
  • Uma
  • Unde
Semua nama sub-suku diatas, diartikan sebagai "tidak".

Pada saat sebelum memeluk agama, suku Kaili menganut animisme, pemujaan kepada roh nenek moyang dan dewa sang Pencipta (Tomanuru), dewa Kesuburan (Buke/Buriro)dan dewa Penyembuhan (Tampilangi). Beberapa upacara adat yang mengandung unsur dinamisme, yaitu: Pesta Perkimpoian (no-Rano, no-Raego, kesenian berpantun muda-mudi), Upacara Kematian (no-Vaino, menuturkan kebaikan orang yang telah meninggal), Upacara Panen (no-Vunja, penyerahan sesaji kepada Dewa Kesuburan) dan Upacara Penyembuhan Penyakit (no-Balia, memasukkan ruh untuk mengobati orang yg sakit).

Setelah masuknya agama Islam dan Kristen, Pesta Perkimpoian dan Upacara Kematian pun disesuaikan antara upacara adat setempat dengan upacara menurut agama penganutnya. Demikian juga upacara yang mengikuti ajaran Islam seperti: Khitan (Posuna), Khatam (Popatama) dan gunting rambut bayi usia 40 hari (Niore ritoya), penyelenggaraannya dilaksanakan berdasarkan ajaran agama Islam.

Suku Kaili memiliki beberapa alat musik yang sering digunakan pada setiap acara kesenian suku Kaili antara lain : Kakula (disebut juga gulintang, sejenis alat musik pentatonis), Lalove (serunai), nggeso-nggeso (rebab berdawai dua), gimba (gendang), gamba-gamba (melodi datar-kecil), goo (gong) dan suli (suling).

Salah satu kerajinan suku Kaili yang terkenal adalah sarung tenun yang dikenal sebagai Buya Sabetetapi, yang bagi masyarakat umum disebut Sarung Donggala. Kain sarung Buya Sabetetapi, memiliki beberapa jenis tenunan berdasarkan motifnya, yaitu Bomba, Subi atau Kumbaja. Selain itu di daerah Kulawi terdapat juga bahan pakaian yang diproses dari kulit kayu yang disebut Katevu. Pakaian dari kulit Kayu Katevu ini sebagian besar dipakai oleh para perempuan dalam bentuk rok dan baju adat.

Beberapa alat senjata perang yang digunakan oleh suku Kaili diantaranya : Guma (sejenis parang), Pasatimpo (sejenis keris), Toko (tombak), Kanjai (tombak trisula), Kaliavo (perisai).

Masyarakat suku Kaili pada umumnya bermatapencaharian pada bidang pertanian, terutama pada tanaman padi di sawah, menanam jagung di ladang dan mereka juga menanam tanaman keras seperti kelapa. Di samping itu masyarakat suku Kaili yang tinggal di dataran tinggi mereka juga memanfaatkan hasil hutan seperti rotan, damar dan kemiri dan beternak. Sedangkan masyarakat suku Kaili yang hidup di pesisir pantai, sebagian bertani dan berkebun serta hidup sebagai nelayan dan berdagang antar pulau ke pulau-pulau terdekat.

Istilah kekerabatan suku Kaili:
  • ayah = tuama = papa, bapak
  • ibu = ina = mama, ina
  • kakek = tua balailo = tua
  • nenek = tina bangaile = tua
  • tante = pinotina = ema
  • suami = berei langgai = mangge atau toma i dei / ojo
  • istri = berei mombine = ina i dei / ojo
  • keponakan = pinoana = dipanggil nama saja
  • ipar = era = dipanggil nama saja
  • mertua = matua = matua
  • anak mantu = mania = panggil nama saja
  • cucu = makumpu = kumpu
  • anak kandung = ana = ojo (anak laki-laki)
  • saudara sepupu = saro sanggani = suvu (atau panggil nama saja)
  • paman = mangge = mangge
  • Saudara = sampe suvu = panggil nama saja

sumber bacaan:
sumber foto:
  • imageshack.us: foto 1, 2 & 3

1 comments:

Silahkan berkomentar di bawah ini, Kami mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan atau ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, sehubungan dengan sumber-sumber yang kami terima bisa saja memiliki kekeliruan.
Dengan senang hati kami menerima segala kritik maupun saran pembaca, demi peningkatan blog Proto Malayan.
Salam dan terimakasih,